Lokasi wisata ini adalah warisan dari pemerintah kolonial Belanda. Berdirinya Museum Nasional diawali dengan berdirinya himpunan yang bernama Bataviaasch Genootscahp van Kunsten en Wetenscappen, yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 24 April 1778. Salah satu pendirinya, yaitu JCM. Radermacher lalu menyumbangkan rumahnya dan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna ke Himpunan ini. Dan seiring dengan bertambahnya koleksi, maka lokasi museum dipindahkan ke lokasi yang sekarang, pada tahun 1868.


Pada tahun 1871, terdapat kunjungan dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand, yang menyumbangkan sebuah patung gajah dari perunggu. Patung itu diletakkan di halaman Museum Nasional sampai sekarang, sehingga wisatawan mengenal Museum Nasional sebagai Museum Gajah atau Gedung Gajah.

Museum Nasional atau yang kerap disebut Museum Gajah, salah satu museum yang kian berbenah untuk meningkatkan layanannya kepada masyarakat. 

Di dalamnya, kita dapat melihat peninggalan dari zaman prasejarah hinga masa kini. Berbentuk patung, gambar, dan benda-benda yang seolah-olah 'bercerita' tentang kejadian pada masa itu. Museum yang sesuai fungsinya sebagai lembaga penelitian edukasi kultural, juga sebagai wisata edukasi, di dalamnya merupakan warisan yang menceritakan peradaban pada masa lalu.

Ruang pameran di Museum Nasional ada empat lantai, memiliki tema besar Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan. Namun, masing-masing lantai mempunyai tema sendiri. Lantai dasar bertema manusia dan lingkungan, menceritakan tentang keberagaman dan kehidupan masyarakat Indonesia dari zaman purba hingga kini. Pada lantai dasar ini, dipamerkan patung manusia purba, fosil dan gua menggambarkan kehidupan manusia masa lampau.


Lantai dua museum bertema ilmu pengetahuan dan teknologi. Berisi beragam alat-alat buatan manusia seperti perahu, alat perkakas, serta alat-alat canggih yang digunakan pada masa perang. Sedangkan di lantai tiga  memiliki tema organisasi sosial dan kemasyarakatan, dan lantai empat emas dan keramik.

Pengunjung yang datang bisa dengan bebas melihat dan mengambil foto, tetapi tetap mematuhi peraturan yang ada, seperti tidak boleh menyentuh barang-barang pameran yang ada. Di lantai empat, yang sebagian besar berisi emas dan keramik, pengunjung dilarang mengambil gambar disini.

Setiap barang-barang yang tersimpan disini, dirawat dengan apik agar tahan lama menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas. Menurut Julius, terdapat tim konservator sendiri untuk melakukan perawatan. Agar lebih memaksimalkan pelayanan kepada pengunjung pun, setiap karyawan di museum diharapkan juga sebagai edukator yang dapat memandu para pengunjung.

Selain memamerkan barang-barang peninggalan, museum yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat 12 ini, juga sering dilaksanakan berbagai kegiatan. Baru-baru ini, dilaksanakan pameran Jejak-jejak Karam yang memamerkan kekayaan hasil laut Indonesia, berupa emas, logam, dan benda-benda berharga lain.


Museum Nasional 
Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Barat 10110
Tel./ Fax. +62 21 344-7778
Website: www.museumnasional.or.id

Jam Operasional :
Selasa-Kamis: 08.30-14.30                      
Jumat: 08.30-11.30                           
Sabtu: 08.30-13.30                       
Minggu: 08.30-14.30  
Tutup pada hari Senin dan hari libur Nasional/keagamaan  

Tiket :
Dewasa Rp 5.000/orang
Anak-anak Rp 2.000/orang 
turis asing Rp 10.000/orang












0 komentar :

Poskan Komentar

 
Top